Jamu Ginggang Pakualaman, Tetap Eksis di Usia Hampir Seabad

  • Whatsapp
dok. website Pemkot Yogya
dok. website Pemkot Yogya

seputarjogja.id, Yogyakarta – Jamu Ginggang yang berada di Pakualaman, Kota Yogyakarta, masih tetap eksis. Jamu Ginggang yang sudah dikelola oleh generasi kelima ini merambah usahanya dengan penjualan secara online di tengah pandemi.

Kios Jamu Ginggang berada di Jalan Masjid No. 32, Pakualaman, tepatnya sebelah barat dari Istana Kadipaten Puro Pakualaman. Konsep kios sejak tahun 1950 lalu hingga kini masih dilestarikan.

Bacaan Lainnya

“Berawal dari tahun 1930-an, Mbah Joyo Tan Ginggang membuka jamu yang dibuat hanya eplek-eplek di depan (kios sekarang). Saat itu, mendapatkan izin dari Kadipaten untuk menjual ke umum,” kata Ike Yulita Astiani, generasi kelima pengelola Jamu Ginggang, Kamis (13/1), dikutip dari website Pemkot Yogya, Sabtu 15 Januari 2022.

Jenis jamu yang ada di Jamu Ginggang antara lain jamu beras kencur, kunyit asem, parem, pahitan, jamu sehat laki-laki, jamu pegel laki-laki, galian putri, galian singset serta jamu terlambat bulan.

Hingga saat ini atau hampir satu abad, Jamu Ginggang masih tetap eksis dan menjadi salah satu favorit jamu tradisional yang banyak diminati masyarakat.

“Jamu Ginggang tidak ada bahan pengawet dan pemanis buatan. Murni gula pasir dan gula merah. Hingga saat ini alhamdulillah masyarakat sangat cocok, bahkan banyak yang bilang sejak minum Jamu Ginggang badan menjadi lebih sehat, nafsu makan bertambah, atau yang ingin mengurangi lemak juga sudah terbukti khasiatnya,” katanya.

Ike Yulita mengatakan, selama pandemi dampak positif yang diperoleh sejak adanya imbauan untuk minum empon-empon seperti kunyit asem, beras kencur, dan temulawak.

“Dari situ masyarakat banyak berdatangan ke warung kami. Sampai sekarang bahkan ada namanya jamu corona (campuran beras kencur, kunyit asem, temulawak), setiap harinya selama pandemi penjualan kami bisa 100-200 gelas,” ujarnya.

Menurutnya, walaupun banyak yang berdatangan membeli jamu, penjualan di masa pandemi mengalami penurunan hingga 25 persen.

“Harapan kami keluarga besar Jamu Ginggang bisa membuka cabang di berbagai kota bahkan ekspor ke luar negeri. Untuk sementara kita merambah penjualan online yakni dengan jamu yang berbentuk serbuk namun ada juga yang cair. Penjualan online ini sementara kita jual melalui marketplace,” ungkap Ike Yulita.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *